Psikologi Gentrifikasi

rasa terasing penduduk asli di tanah mereka yang berubah jadi mewah

Psikologi Gentrifikasi
I

Pernahkah kita melewati jalanan tempat kita biasa main sepeda dulu, dan tiba-tiba sadar kalau warung langganan kita sudah berubah jadi coffee shop berdesain industrial? Harga secangkir kopinya sekarang mungkin sama dengan uang jajan kita seminggu di masa kecil. Kita melangkah masuk ke sana, melihat orang-orang berpenampilan necis sibuk mengetik di laptop mahal. Tiba-tiba, ada perasaan aneh yang menyelinap secara perlahan. Kita sedang berdiri tegak di tanah kelahiran sendiri, tapi rasanya justru seperti sedang tersesat di negara asing. Mengapa perubahan kota yang katanya merupakan sebuah "kemajuan" ini justru membuat hati kita menciut? Mari kita bedah perasaan aneh ini bersama-sama.

II

Fenomena tata kota ini punya nama yang terdengar cukup elegan: gentrification atau gentrifikasi. Istilah ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1964 oleh seorang sosiolog Inggris bernama Ruth Glass. Waktu itu, Ruth mengamati bagaimana kaum pekerja di London perlahan-lahan tergusur. Kelas menengah yang lebih beruang mulai membeli rumah-rumah tua dan menyulapnya menjadi kawasan mewah. Sejarah mencatat, pola ini terus berulang di seluruh penjuru dunia. Dari Brooklyn di New York, kawasan Canggu di Bali, hingga area selatan Jakarta. Secara kasat mata, kita memang melihat perbaikan infrastruktur. Jalanan menjadi lebih mulus. Lampu jalan tampak lebih estetik. Roda ekonomi berputar sangat kencang. Tapi di balik gemerlap lampu neon sign kafe artisan itu, ada sebuah harga mahal yang harus dibayar lunas oleh penduduk asli. Ini bukan sekadar soal meroketnya harga tanah. Ini adalah persoalan kejiwaan. Hal ini membawa kita pada sebuah pertanyaan yang lebih dalam. Mengapa bangunan fisik yang bersolek bisa merusak tatanan mental kita di dalamnya?

III

Untuk menjawab teka-teki itu, kita perlu melangkah masuk ke wilayah psikologi lingkungan. Sebagai manusia, kita punya sebuah kecenderungan alami yang disebut place attachment atau kelekatan pada tempat. Sedari zaman manusia purba purba, otak kita sudah dirancang sedemikian rupa untuk memetakan wilayah demi bertahan hidup. Di mana letak sumber air? Di mana gua tempat berlindung yang aman? Pemetaan ini bukan sekadar urusan memori visual di kepala, tapi sangat sarat akan emosi. Kita menempelkan identitas diri kita pada ruang-ruang fisik tersebut. Coba bayangkan ingatan tentang obrolan santai di pos ronda, atau suara riuh anak-anak dari lapangan kecil di ujung gang. Semua hal kecil itu adalah jangkar psikologis. Jangkar inilah yang setiap hari memberikan sinyal ke otak bahwa kita sedang aman. Nah, apa jadinya ketika jangkar itu tiba-tiba dicabut paksa oleh kekuatan ekonomi pasar? Otak kita sontak mengalami kebingungan massal. Kita melihat jalan aspal yang sama, tapi sinyal rasa aman yang biasanya muncul dari jalan itu hilang menguap entah ke mana. Ada semacam rasa duka dan kehilangan yang tak kasat mata. Apakah perasaan ini cuma sekadar nostalgia berlebihan karena kita menolak untuk menua? Ataukah ada penjelasan sains yang jauh lebih kelam di balik rasa terasing ini?

IV

Di sinilah sains memberikan jawaban yang akan membuat kita terenyuh. Perasaan terasing itu sama sekali bukan sekadar nostalgia cengeng. Teman-teman, dalam dunia psikiatri dan kesehatan masyarakat, ada sebuah konsep nyata yang dinamakan Root Shock (Kejutan Akar). Konsep ini diperkenalkan dengan brilian oleh Dr. Mindy Fullilove, seorang psikiater terkemuka dari Columbia University. Beliau menemukan bahwa hancurnya ekosistem lingkungan fisik akibat pembangunan paksa atau gentrifikasi, ternyata memberikan efek trauma psikologis yang setara dengan efek pasca-bencana alam. Secara neurologis, ketika lingkungan kita berubah drastis tanpa persetujuan kita, amigdala—pusat pendeteksi bahaya dan rasa takut di otak kita—menjadi jauh lebih aktif. Kita kehilangan ekosistem sosial yang selama ini menjadi jaring pengaman mental. Tetangga yang biasa dimintai tolong secara cuma-cuma, kini diganti oleh wajah-wajah asing yang sibuk sendiri. Root Shock pada dasarnya memutus ikatan sosial yang menjaga kewarasan kita sehari-hari. Lebih jauh lagi, ilmuwan lingkungan Albrecht mencetuskan istilah solastalgia. Ini adalah rasa rindu kampung halaman yang kita rasakan, justru ketika kita masih berada di dalam rumah kita sendiri. Kita tidak pergi ke mana-mana, tapi rumah kitalah yang perlahan pergi meninggalkan kita. Ini adalah luka psikologis bawaan gentrifikasi yang sayangnya sering luput dari kacamata tebal para perencana kota.

V

Kita semua tentu sepakat bahwa sebuah kota harus terus berkembang. Perubahan adalah satu-satunya hal yang mutlak dan tak terhindarkan di dunia ini. Tapi, kemajuan sebuah kota tidak seharusnya diukur semata-mata dari seberapa banyak kedai kopi mahal atau apartemen menjulang yang menancap di atas tanahnya. Pembangunan yang sejati seharusnya memanusiakan manusia. Bukan meminggirkan mereka yang sudah merawat dan menanam akar kehidupan di sana sejak puluhan tahun lalu. Sebagai bagian dari masyarakat, menyadari adanya trauma bernama Root Shock ini adalah langkah pertama kita menuju empati. Ketika teman-teman melihat penduduk lokal yang tampak sinis, tertutup, atau menolak perubahan di kampungnya, mari kita sadari bahwa mereka sedang berjuang setengah mati mempertahankan identitas dan rasa aman di otak mereka. Ruang fisik kota mungkin bisa dibeli dengan suntikan modal besar. Tapi sejarah, memori, dan ikatan batin suatu komunitas adalah mahakarya yang tak ternilai harganya. Mari kita rawat kota kita, tanpa harus mengorbankan jiwa dari orang-orang di dalamnya.